Globe Digital Mampu Memprediksi Gempa

173527_620TEMPO.CO, Depok– Peneliti asal Jepang, Takemura Shinichi, menciptakan globe digital yang disebut Tangible Earth yang mampu memprediksi terjadinya bencana di suatu daerah tertentu. Bola dunia digital itu memprediksi masa depan bumi dengan melihat data-data kejadian sebelumnya.

Kemarin, Tangible Earth diperkenalkan di Balai Sidang Universitas Indonesia kepada ratusan mahasiswa dan perwakilan pengamat lingkungan dari enam negara di Asia, yaitu Indonesia, Cina, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. “Tangible Earth merupakan sebuah bola dunia yang menampilkan kondisi bumi secara visual yang dioperasikan dengan sentuhan tangan,” kata Takemura di Balai Sidang UI, Depok, Senin, 25 November 2013.

Seminar yang bertajuk Feel and Change The World With Your Hands itu merupakan acara pembuka dalam acara Forum Lingkungan Hidup. Menurut Takemura, Tangible Earth yang berukuran 1/10 juta dari ukuran aktual bumi dapat dioperasikan dengan sentuhan tangan. Alat ini dapat digunakan untuk mengamati kondisi bumi secara waktu nyata. Namun, globe harus tersambung dengan Internet.

Sebagai contoh, jika seseorang ingin melihat kondisi Kalimantan dalam kepulauan di Indonesia, orang itu tinggal meletakkan telapak tangan di atas sambil sedikit mendorongny. Bola bening itu akan bergerak. Kalau kepulauan di Indonesia sudah ditemukan,┬áputaran langsung dihentikan dengan mengangkat telapak tangan. Lalu, titik fokus tinggal ditekan ke pulau yang diinginkan. “Bisa di-zoom in, tapi harus tersambung Internet,” kata dia.

Dalam alat ini terdapat data dinamika bumi, mulai dari simulasi pemanasan global, cuaca, bencana alam seperti tsunami, hingga pergerakan angin topan. Alat ini juga diklaim dapat mendeteksi dinamika bumi dari berbagai sudut pandang, seperti perkembangan bumi pada 10 tahun ke depan.

“Kondisi pemanasan global pada 10 tahun ke depan,” katanya. Selain 60 jenis data yang telah terprogram sebelumnya, alat ini dapat menerima data baru sesuai dengan perkembangan yang baru.

Menurut Takemura, kelak dia akan mengembangkan alat itu. Tidak saja untuk melihat keadaan bumi, tetapi juga fenomena sosial ekonomi seperti persebaran penduduk, kepadatan penduduk, konsumsi energi, dan lainnya. “Rencana pengembangan, bukan saja kondisi bumi, tapi demografi seperti kondisi sosial dan penyebaran uang,” kata Takemura.

Nantinya, Tangible Earth juga akan dapat digunakan untuk mengetahui bunyi dari berbagai belahan dunia dan dapat disambungkan dengan mikrofon di lokasi tersebut. Dengan begitu, bunyi di tempat tersebut, seperti suara serangga atau burung, dapat terdengar.

General Manager Human Resources Division IT Division AEON, Sudarmadi Salim, mengatakan bahwa pihaknya telah memasang 1 unit Tangible Earth di AEON Mall Lake Town, Jepang. Alat tersebut telah digunakan untuk berbagai kegiatan terkait dengan penangamanan masalah lingkungan di dunia.”Di dunia ini baru ada 20 unit Tangible Earth yang telah dipasang,” katanya. Sebanyak 20 unit yang telah terpasang di antaranya berlokasi di kantor PBB, Dubai, New York, Denmark, dan lainnya.

Sudarmadi mengatakan, peralatan tersebut mulai dirintis pada 1997 dan dirilis pada 2002. “Sekarang ini versi terbaru Tangible Earth yang sudah disempurnakan dari sebelumnya,” katanya. Menurut dia, belum ada yang memasang peralatan senilai US $ 40 ribu itu di Asia Tenggara.

Rektor UI, Muhammad Anis, mengatakan bahwa UI mendukung berbagai kegiatan yang dapat memicu kesadaran mahasiswa mengenai masalah lingkungan. Dengan mengetahui Tangible Earth, kata dia, mahasiswa akan dapat menambah pemahamannya mengenai pemanfaatan alat teknologi tinggi. “Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan,” kata Anis.

Leave a Reply