Komputer Canggih untuk Masa Depan

image

Harga komputer saat ini sudah turun drastis hal itu terjadi tiap kali ada teknologi baru yang keluar tentunya teknologi yang kemarin harganya akan turun drastis, saat ini dunia komputer sudah semakin canggih dengan teknologi baru yang bermunculan dan juga ramah lingkungan mungkin 2 atau 3 tahun kedepan akan lebih canggih lagi dari yang sekarang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, laptop merupakan suatu perangkat komputer yang sangat di inginkan bagi kalangan yang berkecimpung atau pengguna IT.

Selain dapat digunakan dimana saja dan laptop juga menjadi Gaya Hidup seorang profesional. kemana-mana bisa dibawa dan digunakan, baik di kantor maupun cafe sambil nongkrong dan minum kopi, tapi tanpa disadari saat ini harga laptop semakin hari semakin menurun bahkan saat ini harga jual laptop terbaru berkisar 5 sampai 8 juta rupiah. Alhasil banyak orang menggunakan laptop dari pada PC Desktop. Baik dari merek-merek terkenal maupun merek asia dan bahkan merek lokal pun turut ikut mewarnai dalam kancah bisnis komputer tersebut.

Saat ini negara berkembang “semua orang ingin maju dan pintar” telah membuat suatu teknologi didalam dunia IT yang akan menggeser posisi komputer dan laptop. Yaitu teknologi mini computer masa depan yang sedang dipromosikan lebih praktis dan lebih hebat dari teknologi sekarang. Karena hanya mengandalkan sebatang pulpen atau berbentuk hp tapi tetap memiliki kemampuan super komplit seperti PC komputer atau laptop.

Saat ini negara Indonesia masih menjadi pemakai saja dan hanya menerima perakitan ulang, namun kita boleh berharap suatu hari nanti Indonesia juga turut menjadi produsen komputer – komputer masa depan yang lebih canggih.

Apple Patenkan Komputer “Tanpa Layar”

imageKOMPAS.com – Apple baru saja mematenkan teknologi baru, yaitu komputer “desk-free.” Komputer tersebut terdiri atas komputer yang sekaligus menjadi proyektor, lalu disertai alat keyboard dan mouse.

Paten ini akan mewujudkan komputer yang sangat portabel karena hadir tanpa panel layar. Pengguna tinggal menaruh komputer sekaligus proyektor itu ke arah yang diinginkan, misalnya ke dinding. Nantinya, akan ada proyeksi tampilan antarmuka seperti layar komputer.

Proyektor akan menentukan orientasi sendiri, berikut warna dan kecerahan proyeksi. Dan karena menggunakan teknologi nirkabel, maka pengguna bisa membawanya ke mana saja.

Komputer ini disebut Apple menggunakan proyektor pintar yang dilengkapi dengan akselerometer dan sensor cahaya untuk menentukan kedalaman bidang. Jika digabungkan, sensor-sensor tersebut bisa memerintah proyektor untuk menentukan di mana dan bagaimana sebaiknya menampilkan gambar, secara nirkabel.

Seperti dikutip dari BGR, Selasa (17/12/2013), paten yang didaftarkan Apple tersebut menggunakan kabel induktif dan baterai sebagai sumber tenaga komputer.

Apple sedang getol mematenkan beragam teknologi, namun baru sedikit yang diwujudkan. Perusahaan juga memiliki rencana besar untuk mengubah wujud ruang keluarga. Karena itu, paten “desk-free” mungkin menjadi bagian dari rencana tersebut, selain Apple TV.

Apple TV memang terlihat menjanjikan, namun masih ada kendala yang harus diperbaiki, terkait cara mengontrolnya. Saat ini Apple TV hanya menyediakan alat pengontrol sederhana dengan tiga tombol dan tombol arah. Walau mudah digunakan, namun fungsinya masih terbatas.

Banyak yang memprediksi Apple bakal terjun ke industri game. November 2013, Apple mengakuisisi PrimeSense asal Israel, produsen semikonduktor yang bekerjasama dengan Microsoft dalam mengembangkan sensor Kinect. Dengan kombinasi sensor buatan PrimeSense, Apple diprediksi bisa memberikan pengalaman komputasi yang lebih menarik di ruang keluarga.

Desain Baru Google Glass 2.0 Bisa Gunakan Kacamata Minus atau Plus

imageGaptekBGT.com – Pada beberapa bulan lalu pihak Google telah memberikan pernyataan bahwa pihaknya siap merevisi desain dari Google Glass miliknya agar bisa sesuai dengan beberapa fitur baru kedepannya. Selain itu juga agar pengguna memiliki kemudahan dalammenambahkan lensa minus/plus di perangkat Google Glass tersebut nantinya. Dan akhirnya pengerjaan proyek tersebut kini sudah mencapai tahap akhir, dan Google Glass 2.0 tersebut sudah siap dipamerkan kepada publik.

Sehingga nantinya Google Glass 2.0 bisa dilengkapi kacamata minus atau plus. Terlebih lagi kemarin juga sudah muncul kabar bahwa Google Glass tersebut akan bisa menjalankan Google Play Music yang artinya bisa semakin memanjakan penggunanya. Brian Matiash telah mengunggah beberapa foto terbaru dari kacamata Google Glass 2.0 dan model terbaru tersebut sepertinya masih berupa prototype.

Dari foto yang ada, kacamata milik Google tersebut memiliki frame yang memang sengaja dirancang untuk digunakan bersama Google Glass. Karena hanya satu tangkai saja dari frame yang terhubung dengan perangkat Glass. Sehingga jika Anda memiliki keinginan untuk menggunakan frame kesukaan Anda di perangkat Glass 2.0 jelas tidak akan mungkin. Karena keduanya tidak akan saling kompatibel satu dengan yang lainnya.

Tentunya akan banyak orang yang tertarik dengan kacamata canggih milik Google ini sebab nantinya Google Glass bisa dilengkpai kacamata minus atau plus. Sehingga semua orang bisa menggunakan kacamata jenis tersebut untuk digunakan setiap harinya. Berikut beberapa foto yang telah diunggah oleh Brian.

Skinput, Jadikan Kulit Menjadi Keyboard

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Banyak teknologi alternatif pengganti keyboard, mouse dan touchscreen, semuanya menarik dan punya kelebihan dan kekurangan tetapi bagaimana menurut anda dengan yang satu ini?
Skinput adalah teknologi terbaru yang sedang dikembangkan oleh Chris Harrison di Carnegie Mellon University dan Dan Morris & Desneay Tan di Microsofts research lab di Redmond, Washington.
Teknologi Skinput memanfaatkan kulit anda sebagai media untuk mengontrol komputer maupun gadget lainnya.
Dengan menggunakan sensor yang diletakkan di lengan, setiap sentuhan di setiap bagian akan dapat mengontrol banyak hal.
Sensor yang ada dapat membedakan kerasnya sentuhan di setiap titik sehingga perbedaan tersebut bisa digunakan untuk membedakan control yang diinginkan.
Teknologi ini juga bisa dipadukan dengan Pico Proyektor yang akan menampilkan menu di kulit anda dan kemudian bisa kita gunakan seperti sebuah keyboard atau gamepad kalau perlu.
Pico Proyektor atau lebih dikenal dengan PicoP. adalah suatu alat proyektor mini yang bisa menampilkan gambar maupun video dengan menggunakan 3 laser LED.

Komponen PicoP sendiri terdiri dari 3 laser LED ( warna hijau,biru dan merah), MEMS scanner,optik,dan elektronika. Keseluruhan unit PicoP ini berukuran panjang hanya kurang lebih 10 milimeter.Dan Laser proyektor ini mempunyai gambar yang beresolusi (850 x 480 piksel) setara dengan kualitas DVD.

PicoP ini bekerja dengan menembakkan sinar laser lewat sebuah cermin getar. Cermin getar itu lalu akan memantulkan sinar untuk menghasilkan piksel yang memberi bentuk pada gambar.

Kemudian Masing-Masing Warna Pixel tersebut dihasilkan dengan kombinasi pengaturan laser merah, biru dan hijau . Intensitas dari tiap sumber cahaya yang bervariasi dapat menghasilkan corak bayangan dan warna yang lengkap.

Sebagai contoh, pixels merah memerlukan laser yang berwarna merah, maka pada saat itu laser yang hanya berwarna merah yang dipakai sedangkan laser hijau dan biru sementara dimatikan. Untuk mendapatkan pixel ungu, laser biru dan merah dipakai sedangkan laser yang hijau sementara dimatikan.
Begitulah seterusnya untuk pengaturan warna pixel pada laser LED sehingga warna yang ditampilkan bisa begitu teratur dan sempurna.image

Globe Digital Mampu Memprediksi Gempa

173527_620TEMPO.CO, Depok– Peneliti asal Jepang, Takemura Shinichi, menciptakan globe digital yang disebut Tangible Earth yang mampu memprediksi terjadinya bencana di suatu daerah tertentu. Bola dunia digital itu memprediksi masa depan bumi dengan melihat data-data kejadian sebelumnya.

Kemarin, Tangible Earth diperkenalkan di Balai Sidang Universitas Indonesia kepada ratusan mahasiswa dan perwakilan pengamat lingkungan dari enam negara di Asia, yaitu Indonesia, Cina, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. “Tangible Earth merupakan sebuah bola dunia yang menampilkan kondisi bumi secara visual yang dioperasikan dengan sentuhan tangan,” kata Takemura di Balai Sidang UI, Depok, Senin, 25 November 2013.

Seminar yang bertajuk Feel and Change The World With Your Hands itu merupakan acara pembuka dalam acara Forum Lingkungan Hidup. Menurut Takemura, Tangible Earth yang berukuran 1/10 juta dari ukuran aktual bumi dapat dioperasikan dengan sentuhan tangan. Alat ini dapat digunakan untuk mengamati kondisi bumi secara waktu nyata. Namun, globe harus tersambung dengan Internet.

Sebagai contoh, jika seseorang ingin melihat kondisi Kalimantan dalam kepulauan di Indonesia, orang itu tinggal meletakkan telapak tangan di atas sambil sedikit mendorongny. Bola bening itu akan bergerak. Kalau kepulauan di Indonesia sudah ditemukan, putaran langsung dihentikan dengan mengangkat telapak tangan. Lalu, titik fokus tinggal ditekan ke pulau yang diinginkan. “Bisa di-zoom in, tapi harus tersambung Internet,” kata dia.

Dalam alat ini terdapat data dinamika bumi, mulai dari simulasi pemanasan global, cuaca, bencana alam seperti tsunami, hingga pergerakan angin topan. Alat ini juga diklaim dapat mendeteksi dinamika bumi dari berbagai sudut pandang, seperti perkembangan bumi pada 10 tahun ke depan.

“Kondisi pemanasan global pada 10 tahun ke depan,” katanya. Selain 60 jenis data yang telah terprogram sebelumnya, alat ini dapat menerima data baru sesuai dengan perkembangan yang baru.

Menurut Takemura, kelak dia akan mengembangkan alat itu. Tidak saja untuk melihat keadaan bumi, tetapi juga fenomena sosial ekonomi seperti persebaran penduduk, kepadatan penduduk, konsumsi energi, dan lainnya. “Rencana pengembangan, bukan saja kondisi bumi, tapi demografi seperti kondisi sosial dan penyebaran uang,” kata Takemura.

Nantinya, Tangible Earth juga akan dapat digunakan untuk mengetahui bunyi dari berbagai belahan dunia dan dapat disambungkan dengan mikrofon di lokasi tersebut. Dengan begitu, bunyi di tempat tersebut, seperti suara serangga atau burung, dapat terdengar.

General Manager Human Resources Division IT Division AEON, Sudarmadi Salim, mengatakan bahwa pihaknya telah memasang 1 unit Tangible Earth di AEON Mall Lake Town, Jepang. Alat tersebut telah digunakan untuk berbagai kegiatan terkait dengan penangamanan masalah lingkungan di dunia.”Di dunia ini baru ada 20 unit Tangible Earth yang telah dipasang,” katanya. Sebanyak 20 unit yang telah terpasang di antaranya berlokasi di kantor PBB, Dubai, New York, Denmark, dan lainnya.

Sudarmadi mengatakan, peralatan tersebut mulai dirintis pada 1997 dan dirilis pada 2002. “Sekarang ini versi terbaru Tangible Earth yang sudah disempurnakan dari sebelumnya,” katanya. Menurut dia, belum ada yang memasang peralatan senilai US $ 40 ribu itu di Asia Tenggara.

Rektor UI, Muhammad Anis, mengatakan bahwa UI mendukung berbagai kegiatan yang dapat memicu kesadaran mahasiswa mengenai masalah lingkungan. Dengan mengetahui Tangible Earth, kata dia, mahasiswa akan dapat menambah pemahamannya mengenai pemanfaatan alat teknologi tinggi. “Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan,” kata Anis.